AHOK Kami Ummat Islam Memaafkan dan Memaklumi anda

Pengamat Islam - AHOK Kami Ummat Islam Memaafkan dan Memaklumi anda
Banyak usaha yang sudah dilakukan ummat islam untuk menegakkan keadilan di negara ini, Ahok yang sudah jelas jelas melecehkan Al-Qur'an dan Ummat Islam sudah meminta maaf kepada Ummat Islam. dan saya dan sekaligus mewakili Ummat Islam mengatakan kepada anda bahwa kami sudah memaafkan anda bahkan kami memaklumi anda.

Kita semua tahu, sesuatu yang jelek itu lahir dari sesuatu yang jelek. ungkapan pelecehan seseorang itu lahir karena dirinya memang patut dilecehkan. Orang yang sesat karena terlahir dari pemahaman yang sesat pula, dan pemahaman yang sesat lahir karena kitab atau guru yang sesat.
Kami sadar kenapa ngomongnya anda kotor, jelek dan juga menjijikkan, dan kami memaklumi itu. dan kami semakin sadar bahwa Al-Qur'an itu mulya dan benar. anda belum didukung saja sudah berani melecehkan Al-Qur'an, bagaimana kalau anda kami dukung dengan baik?
Masya Allah, Maha Benar Allah, Ternyata penjelasan Allah semakin jelas dan nyata.

Coba kita lihat firman Allah di Surat Al-Baqarah Ayat 120:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Ahok memaksakan pahamnya kepada ummat islam dan menyatakan apabila mengikuti al-qur'an berarti dibodohi. (Teks aslinya "Jangan Mau Dibodohi Dengan Al-Maidah ayat 51").

Dan apa yang keluar dari mulut Ahok itu hanyalah sedikit ungkapan rasa bencinya kepada islam, sedangkan didalam hatinya ada yang lebih besar lagi, mari kita lihat firman Allah yang lain yaitu di Surat Ali Imran 118:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

Ahok, sekali lagi kami katakan kepada kamu bahwa kami memaklumi busuknya hatimu dan perkataanmu, karena jelas itu semua memang qadratmu sebagai nasrani.

Kami juga memaafkanmu atas ucapan kotormu, namun hukum tetaplah hukum, kamu itu haruslah jantan menerima hukum yang ada di indonesia, kecuali kamu menggunakan dalil kejadian menjelang kematian yesus yang merengek rengek meminta tolong dan meminta terlepas dari siksaan yang dideritanya.
dan apabila kamu ikut ikutan menjadi pengecut dan bersilat lidah merengek kesana dan kesini termasuk ke jokowi, kami pun sudah memakluminya, karena mungkin itu ajaran yang melekat dalam hatimu. Cuma nasehatku, Jangan Kamu Mau Dibodohi Dongeng Yesus agar mulutmu bisa sedikit bisa dijaga!.
AHOK Kami Ummat Islam Memaafkan dan Memaklumi anda

Kesesatan Wahabi dan Muslim.or.id Website Sekte Wahabi

Pengamat Islam - Kesesatan Wahabi dan Muslim.or.id Website Sekte Wahabi
Tulisan kali menyambung tulisan saya sebelumnya yang berjudul Jauhi Muslim or id Sebelum anda Terjerumus Faham Wahabi

Kaum Wahabi banyak yang marah dengan tulisan saya tersebut. banyak yang main caci maki seperti orang kesurupan, dan ada juga yang sok bijak berkomentar dengan kata-kata halus tapi pura-pura tidak mengerti, padahal saya menulisnya sudah sangat jelas.

Kalau saya sendiri sih tidak heran dengan gaya mereka. gaya seperti itu memang gaya khas sekte wahabi.

Komentar yang ada di tulisan saya yang berjudul Jauhi Muslim or id Sebelum anda Terjerumus Faham Wahabi ternyata sampai lebih dari 200 komentar, sehingga saya kesulitan untuk menjawabnya satu persatu, apalagi pertanyaannya intinya sama saja, karena itu saya membuat postingan ini sebagai sarana diskusi sehat. sedangkan di postingan Jauhi Muslim or id Sebelum anda Terjerumus Faham Wahabi nanti komentarnya akan saya tutup.

Kesesatan Wahabi dan Muslim.or.id Website Sekte Wahabi

Wahabi sudah jelas kesesatannya. Wahabi adalah kelompok yang keluar dari Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (Baca Pengertian Ahlus Sunnah Wal Jama'ah).

Wahabi itu suka mengkafirkan. Imam Al-Ghazali dikafirkan oleh Wahabi, website Muslim.or.id juga menyebarluaskan hal itu. membid'ahkan amaliyah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Mengkafirkan orang tua Nabi Muhammad SAW. Menyakini Allah Duduk di kursi seperti yesus dan masih banyak lagi kesesatan-kesesatan yang lain yang imani oleh Wahabi dan disebarluaskan oleh Situs-situs Wahabi seperti website Muslim.or.id.

Ulama Salaf dan Ulama Khalaf sudah sepakat semua menyatakan bahwa Wahabi bukanlah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, namun mereka ngeyel menganggap Salafi, padahal pada dasarnya mereka bukanlah pengikut Salafi apalagi pengikut Rasul.

Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wasallam Muhammad Bin Abdullah datang di tengah-tengah kaum kafir, berdakwah dengan akhlaq yang sangat bagus sehingga orang kafir berbondong-bondong masuk memeluk islam.
Sedangkan Kaum Wahabi pengikut Muhammad Bin Abdul Wahhab Annajdi hadir di tengah-tengah ummat islam dan membid'ahkan mereka serta mengkafirkan dan menghalalkan darah mereka.
Coba anda lihat perbedaan besar antara Pengikut Muhammad Bin Abdullah Shallahu 'Alaihi Wasallam dengan pengikut Muhammad Bin Abdul Wahhab Annajdi!!!!

NB
Bagi yang berkomentar harap sesuaikan dengan artikel, karena saya capek menanggapi komentar sampah pengikut Muhammad Bin Abdul Wahhab Annajdi!.
Kesesatan Wahabi dan Muslim.or.id Website Sekte Wahabi

Idul Adha Salafi Wahabi Berkurban/Berqurban Buaya

Pengamat Islam - Idul Adha Salafi Wahabi Berkurban/Berqurban Buaya
Kalau ummat islam sudah biasa berkurban dengan kambing atau sapi saat Idul Adha, kalau yang ada di arab juga banyak yang berkurban/berqurban dengan unta, kalau di indonesia tidak ada ummat islam yang berqurban dengan unta karena memang untanya yang tidak ada.

Wahabi adalah kelompok sesat yang merusak islam, banyak hal yang sangat bertentangan dengan islam, jangankan masalah tauhid yang mana tauhid adalah pondasi utama dalam agama islam, bahkan masalah furu'iyah pun wahabi sangat berbeda dengan ummat islam. seperti contoh Halalnya buaya menurut pendapat mereka.

Saya juga sudah cari tahu kebenaran ini, bahkan di website muslim.or.id (websitenya sekte wahabi sesat) dan juga di situs almanhaj.or.id (situs wahabi sesat juga) sudah membahas mengenai kehalalan buaya,  dan berikut  salah satu tulisannya:

HUKUM MAKAN DAGING BUAYA
Pertanyaan.
Buaya itu halal atau haram ?
Jawaban.
Mengenai hukum memakan daging buaya, telah ada fatwa dari Komite Tetap Untuk Riset ilmiyah dan fatwa, kerajaan Saudi Arabia no. 5394[1] yang ditanda tangani oleh  Ketua komite tersebut Syaikh Abdulaziz bin Abdillah bin Bâz rahimahullah dan dua Ulama sebagai anggotanya yaitu syaikh Abdurrazaq afifi t dan syaikh Abdullah bin Qu’ud –Hafizhahullâhu ta’ala-.
Fatwa tersebut disampaikan berkenaan dengan pertanyaan yang disampaikan kepada komite berkenaaan dengan halalkah memakan hewan-hewan berikut: Penyu, kuda laut, buaya dan landak, ataukah semua ini haram?
Mereka menjawab, “Memakan landak hukumnya halal, berdasarkan keumuman firman Allâh Azza wa Jalla :
قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ
Katakanlah, “Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allâh. [al-An’âm/6:145]
Juga karena kaidah pada asalnya diperbolehkan sampai pasti ada yang memalingkan hukum tersebut.
Adapun penyu (kura-kura), sejumlah Ulama berpendapat bahwa boleh mengkonsumsi binatang ini walaupun tanpa disembelih, berdasarkan keumuman firman Allâh Azza wa Jalla:
أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ
Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut [al-Mâ’idah/5:96]
Juga sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang air laut:
هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ
Airnya suci dan bangkainya halal.
Namun yang lebih selamat adalah tetap disembelih, agar keluar dari khilaf.
Sedangkan buaya ada yang berpendapat boleh dimakan seperti ikan berdasarkan keumuman ayat dan hadits diatas. Ada juga yang menyatakan  haram dimakan, karena termasuk hewan buas yang bertaring. Yang rajih adalah pendapat pertama.
Adapun kuda laut maka boleh dimakan karena masuk keumuman ayat dan hadits di atas dan tidak adanya dalil yang menentangnya. Juga karena kuda darat halal dimakan dengan nash maka tentunya kuda laut lebih pantas lagi dihalalkan.
Wabillâhit Taufîq wa Shallallâhu ‘ala Nabiyyinâ Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa sallam.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XV/1433H/2012M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
________
Footnote
[1]  Fatâwa Lajnatid Dâimah Lil Buhûtsil ‘Ilmiyyah wal Iftâ, 22/319
Sumber: https://almanhaj.or.id/4658-hukum-makan-daging-buaya.html

Salah satu ustadz kebanggaan wahabi pun sudah memfatwakan kehalalan buaya, dan kalau anda cari di youtube insya allah akan banyak anda dapati videonya, dan salah satunya ialah di: https://www.youtube.com/watch?v=USU8rYXMEGo

Fatwa Buaya halal ini fatwa sesat wahabi.
Wahabi kalau bicara sok ikut Qur'an, sok Sunnah, padahal jelas nabi sendiri melarang memakan hewan yang bertaring dan buas.
salah satu haditsnya ialah:


نَهَى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم-عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِى نَابٍ مِنَ السَّبُعِ

“Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam melarang melarang memakan setiap hewan bertaring yang buas”(Muttafaqun ‘Alaih).

Para ulama juga menjelaskan tidak boleh. ingat, ulama ahlus sunnah wal jama'ah yang saya maksud, bukan ulama bin baz tokoh wahabi sesat! INGAT!.

*Imam Ahmad mengatakan,

يُؤْكَلُ كُلُّ مَا فِي الْبَحْرِ إِلَّا الضُّفْدَعَ وَالتِّمْسَاحَ

“Setiap hewan yang hidup di air boleh dimakan kecuali katak dan buaya.” (Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi, Abul ‘Alaa Al Mubarakfuri, 1/189, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah)

DALILNYA JELAS KAN?

Wahabi ini kalau dibiarkan nanti malah tambah merusak islam, dan tidak mustahil nantinya malah berkurban dengan hewan kurban buaya.
Waduh, siapa juga sih yang makan?!!!!

Ingat Firman Allah:

ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث
“Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk.” [QS. Al ‘Araf :157]. 

Yang baik masih banyak, kenapa harus makan yang buruk sih?!!
Sadarlah WAHABI SESAT!!!
Idul Adha Salafi Wahabi Berkurban/Berqurban Buaya

Siapa Firanda Andirja Sebenarnya?

Pengamat Islam - Siapa Firanda Andirja Sebenarnya?
Ustadz Wahabi ini berkali-kali ditolak saat akan mendakwakan paham Wahabinya. Kelompok Wahabi mati-matian mempromosikan ia melalui banyak media. bahkan di wikipedia Firanda Andirja dipuji setinggi langit. dari sana saya tahu, ternyata Firanda Andirja ini keturunan Papua.

"Wow..jangan ikut bakar-bakar masjid ya tadz.." hihihihi

berikut ini tulisan pengikut Firanda Andirja di wikipedia:

Ustadz Firanda Andirja Abidin, Lc., MA. (lahir di Surabaya, 28 Oktober 1979; umur 36 tahun), yang lebih dikenal dengan nama Firanda Andirja dengan bernama kuniyah Abu Abdil Muhsin adalah seorang da'i dan mubalig di Indonesia yang menjadi penceramah tetap di Masjid Nabawi Saudi Arabia. Dia juga salah satu staf pengajar di Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember. Disamping itu dia juga aktif menjadi narasumber di Radio Rodja dan aktif mengisi beberapa pengajian akbar di Indonesia.

Firanda Andirja lahir di Surabaya, 28 Oktober 1979. Masa kecil, SD hingga SMA dia habiskan di Sorong, Papua. Pada masa-masa selanjutnya, dia bersekolah sampai masuk S2 di Universitas Islam Madinah. Menamatkan kuliahnya dengan tesis أَجْوِبَةُ شَيْخِ الإِسْلاَمِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ رحمه الله عَنِ الشُّبْهَاتِ التَّفْصِيْلِيَّةِ لِلْمُعَطِّلَةِ فِي الصِّفَاتِ الذَّاتِيَّةِ (Jawaban Ibnu Taimiyyah terhadap syubhat-syubhat terperinci yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah dzatiyah yang dilontarkan oleh para penolak sifat), dan sedang menempuh S3. Dikenal mempunyai seorang istri bernama Rosmala Dewi Arifudin atau Ummu Abdil Muhsin. Dari hasil pernikahannya, dia mendapat 5 orang anak, putra dan putri.

Ustadz Firanda Andirja saat ini masih menempuh program doktoral bidang Aqidah di Universitas Islam Madinah. Namun disamping itu, dia aktif di berbagai kegiatan dakwah di Saudi Arabia. Di antaranya dia dipercaya untuk menjadi pengisi pengajian rutin berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi, Madinah.[1] Yang tidak semua orang diizinkan pemerintah setempat untuk menjadi pengisi di sana.

Ustadz Firanda juga beberapa kali bertandang ke tanah air untuk mengisi tabligh akbar dan dia salah satu pengisi tetap di Radio Rodja secara jarak jauh dari kota Madinah. Dalam beberapa kesempatan dakwahnya di manhaj Salaf, sempatlah dia menulis bantahan-bantahan terhadap polemik dari Quraish Shihab, tokoh-tokoh serupa Ulil Abshar Abdalla, kaum takfiri -orang yang benar-benar sangat mudah mengkafirkan orang lain tanpa pikir panjang, dan membantah juga sejumlah tokoh haba'ib-haba'ib Indonesia yang kadangkala nyeleneh. Sampai saat ini, dia masih terus berdakwah dan mengadakan daurah ke seluruh Nusantara.

Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin al-Abbad adalah salah satu ulama kenamaan di Saudi Arabia. Syaikh Abdur Razaq juga merupakan dosen dari Ustadz Firanda di Universitas Islam Madinah. Lewat Ustadz Firanda lah, Syaikh Abdur Razaq beberapa kali bertandang ke Indonesia untuk menyampaikan tausiyah. Lewat dia juga, Syaikh Abdur Razaq bersedia menjadi pengisi rutin di Radio Rodja dengan bahasa Arab, dan diterjemahkan oleh Ustadz Firanda sendiri. Syaikh Abdur Razaq pun kerap meluncurkan pujian kepada Ustadz Firanda Andirja. Ketika tabligh akbar di Masjid Istiqlal, Syaikh Abdur Razaq menuturkan, "Saya sangat berterima kasih kepada Syaikh Firanda, karena acara ini terlaksana, di antaranya atas usaha dia. Selain itu, dia juga sering menerjemahkan ceramah-ceramah saya yang lainnya baik kajian yang disiarkan Radio Rodja maupun lainnya, mohon kalimat ini diterjemahkan karena sangat penting"

Dari tulisan diatas, kok bapaknya tidak disebut ya?
Bapaknya Firanda Andirja ini islam apa non muslim?
kalau muslim pahamnya paham apa?
Paham Wahabi juga, atau syi'ah?
Kalau kita lihat dari Rasulullah saw, atau kita lihat para shahabat, atau kita lihat para ulama dan habaib, biasanya sudah sangat lumrah nama ayahnya juga diikut sertakan. nah, tokoh yang satu ini kemana bapaknya?

Coba kita bandingkan dengan Profil Nabi Muhammad Bin Abdullah Saw:

"Muhammad" (Arab: محمد بن عبد الله; Transliterasi: Muḥammad;[17] diucapkan [mʊħɑmmæd] ( simak))[18][19][20] secara bahasa berasal dari akar kata semitik 'H-M-D' yang dalam bahasa Arab berarti "dia yang terpuji". Selain itu, dalam salah satu ayat Al-Qur'an,[21] Muhammad dipanggil dengan nama "Ahmad" (أحمد), yang dalam bahasa Arab juga berarti "terpuji".

Sebelum masa kenabian, Muhammad mendapatkan dua gelar dari suku Quraisy (suku terbesar di Mekkah yang juga suku dari Muhammad) yaitu Al-Amiin yang artinya "orang yang dapat dipercaya" dan As-Saadiq yang artinya "yang benar". Setelah masa kenabian para sahabatnya memanggilnya dengan gelar Rasul Allāh (رسول الله), kemudian menambahkan kalimat Shalallaahu 'Alayhi Wasallam (صلى الله عليه و سلم, yang berarti "semoga Allah memberi kebahagiaan dan keselamatan kepadanya"; sering disingkat "S.A.W" atau "SAW") setelah namanya.

Muhammad juga mendapatkan julukan Abu al-Qasim[2] yang berarti "bapak Qasim", karena Muhammad pernah memiliki anak lelaki yang bernama Qasim, tetapi ia meninggal dunia sebelum mencapai usia dewasa.

Genealogi

Silsilah Muhammad dari kedua orang tuanya kembali ke Kilab bin Murrah bin Ka'b bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr (Quraish) bin Malik bin an-Nadr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma`ad bin Adnan.[22] Silsilah sampai Adnan disepakati oleh para ulama, sedangkan setelah Adnan terjadi perbedaan pendapat. Adnan secara umum diyakini adalah keturunan dari Ismail bin Ibrahim, yang selanjutnya adalah keturunan Sam bin Nuh.

Walaupun demikian, terdapat sejarawan yang menyusun silsilah yang lebih jauh lagi. Muhammad bin Ishak bin Yasar al-Madani, di salah satu riwayatnya menyebutkan silsilah hingga Adam. Silsilah tersebut adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy) bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzayma bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan bin Udad bin al-Muqawwam bin Nahur bin Tayrah bin Ya'rub bin Yasyjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim bin Tarih (Azar) bin Nahur bin Saru’ bin Ra’u bin Falikh bin Aybir bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh bin Lamikh bin Mutusyalikh bin Akhnukh bin Yarda bin Mahlil bin Qinan bin Yanish bin Syits bin Adam.

Coba kita bandingkan lagi dengan Profil Habib Munzir sabagai berikut:

Munzir bin Fuad al-Musawa atau lebih dikenal dengan Munzir Al-Musawa atau Munzir (lahir di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, 23 Februari 1973 – meninggal di Jakarta, 15 September 2013 pada umur 40 tahun)[3] adalah dikenal sebagai pimpinan Majelis Rasulullah SAW yang dakwahnya menjangkau berbagai wilayah di Indonesia, beberapa wilayah nusantara dan dunia. Dakwahnya yang menyentuh berbagai kalangan menjadikan ia banyak dicintai oleh Ummat Islam terutama di wilayah Jabodetabek dan di Nusantara. Munzir adalah murid yang begitu disayangi oleh gurunya Umar bin Hafidz [7][8], sedangkan kalangan pemuda muslim yang mengenalnya tidak jarang menjadikan ia sebagai panutan ataupun idola dalam mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW.[9] Dakwahnya di Indonesia juga tercatat sering di hadiri tokoh-tokoh nasional seperti Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, Suryadharma Ali , Fadel Muhammad, Fauzi Bowo dan lain-lain.

Coba bandingkan lagi dengan profil Habib Rizieq sebagai berikut:

Habib Rizieq yang bernama lengkap Muhammad Rizieq bin Hussein Shihab (lahir di Jakarta, 24 Agustus 1965; umur 51 tahun)[1] adalah seorang tokoh Islam Indonesia yang dikenal sebagai pemimpin organisasi Front Pembela Islam.

Lalu ada apa dengan nasab Firanda ini?
Kenapa harus disembunyikan?
Adakah Aib yang besar disana?

Kalau kita lihat kata pepatah, "BUAH JATUH TIDAK JAUH DARI POHONNYA"
Buahnya seperti firanda, kira kira pohonnya seperti apa ya?
Siapa Firanda Andirja Sebenarnya?

Kesesatan Konsep Tauhid Trinitas Wahabi yang tak terbantahkan

Pengamat Islam - Kesesatan Konsep Tauhid Trinitas Wahabi yang tak terbantahkan
Sebelumnya saya sudah menulis sebuah artikel yang menjelaskan bahwa Salafi Wahabi (Kelompok pengikut Muhammad bin abdul wahhab yang menamakan diri mereka sebagai pengikut salaf) itu sesat, bahkan juga menyesatkan. dan pantas saja kalau saat ini sudah banyak ustadz mereka yang ditolak dimana-mana. silahkan anda lihat tulisan sebelumnya:

Wahabi, Syiah dan Liberal adalah Fitnah Terbesar Bagi Ummat Islam
Penolakan Ummat Islam Terhadat Ustadz Khalid Basalamah Sangatlah Tegas

Kesesatan memang tidak akan kuat, karena kesesatan tidaklah ada dasarnya.
Alasan mereka hanyalah alasan yang diada-adakan. salah satu contoh kecil mengenai Konsep Tauhid Trinitas Wahabi yang sebenarnya tidak ada dasar dari Alqur'an dan Alhadits, andaikata dipaksakan ada dasarnya, pastinya dasarnya diambil dari konsep trinitas kristen.
Mengenai Konsep Trinitas yang menjadi pegangan Wahabi sudah banyak dibahas ulama, dan tidak ada ulama Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang berpegang dengan Konsep ini. bahkan Kyai Muda dari Tokoh NU yaitu Kyai Idrus Ramli juga sudah membahas hal ini, bahkan sampai diposting di blog pribadinya, sampai saat ini tidak bisa dibantah oleh kyai-kyai dan ustadz-ustadz wahabi.

Berikut tulisan Kyai Idrus Ramli yang tak terbantahkan oleh wahabi:

KESESATAN TAUHID WAHABI
(VERSI DIALOG)

WAHABI: “Mengapa Anda menilai kami kaum Wahabi termasuk aliran sesat, dan bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Padahal rujukan kami sama-sama Kutubus-Sittah (Kitab Standar Hadits yang enam).?”

SUNNI: “Sebenarnya kami hanya merespon Anda saja. Justru Anda yang selalu menyesatkan kelompok lain, padahal ajaran Anda sebenarnya yang sesat.”

WAHABI: “Di mana letak kesesatan ajaran kami kaum Wahabi?”

SUNNI: “Kesesatan ajaran Wahabi menurut kami banyak sekali. Antara lain berangkat dari konsep tauhid yang sesat, yaitu pembagian tauhid menjadi tiga.”

WAHABI: “Kok bisa Anda menilai pembagian tauhid menjagi tiga termasuk konsep yang sesat. Apa dasar Anda?”

SUNNI: “Begini letak kesesatannya. Pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, belum pernah dikatakan oleh seorangpun sebelum Ibn Taimiyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak pernah berkata kepada seseorang yang masuk Islam, bahwa di sana ada dua macam Tauhid dan kamu tidak akan menjadi Muslim sebelum bertauhid dengan Tauhid Uluhiyyah. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak pernah mengisyaratkan hal tersebut meskipun hanya dengan satu kalimat. Bahkan tak seorangpun dari kalangan ulama salaf atau para imam yang menjadi panutan yang mengisyaratkan terhadap pembagian Tauhid tersebut. Hingga akhirnya datang Ibn Taimiyah pada abad ketujud Hijriah yang menetapkan konsep pembagian Tauhid menjadi tiga.”

WAHABI: “Anda mengerti maksud tauhid dibagi tiga?”

SUNNI: “Kenapa tidak mengerti?
Menurut Ibn Taimiyah Tauhid itu terbagi menjadi tiga:
Pertama, Tauhid Rububiyyah, yaitu pengakuan bahwa yang menciptakan, memiliki dan mengatur langit dan bumi serta seisinya adalah Allah saja. Menurut Ibn Taimiyah, Tauhid Rububiyyah ini telah diyakini oleh semua orang, baik orang-orang Musyrik maupun orang-orang Mukmin.
Kedua, Tauhid Uluhiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah. Ibn Taimiyah berkata, “Ilah (Tuhan) yang haqq adalah yang berhak untuk disembah. Sedangkan Tauhid adalah beribadah kepada Allah semata tanpa mempersekutukan-Nya”.
Ketiga, Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, yaitu menetapkan hakikat nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan arti literal (zhahir)nya yang telah dikenal di kalangan manusia.
Pandangan Ibn Taimiyah yang membagi Tauhid menjadi tiga tersebut kemudian diikuti oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, perintis ajaran Wahhabi. Dalam pembagian tersebut, Ibn Taimiyah membatasi makna rabb atau rububiyyah terhadap sifat Tuhan sebagai pencipta, pemilik dan pengatur langit, bumi dan seisinya. Sedangkan makna ilah atau uluhiyyah dibatasi pada sifat Tuhan sebagai yang berhak untuk disembah dan menjadi tujuan dalam beribadah.
Tentu saja, pembagian Tauhid menjadi tiga tadi serta pembatasan makna-maknanya tidak rasional dan bertentangan dengan dalil-dalil al-Qur’an, hadits dan pendapat seluruh ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah.”

WAHABI: “Maaf, dari mana Anda berkesimpulan, bahwa pembagian dan pembatasan makna tauhid versi kami kaum Wahabi bertentangan dengan al-Qur’an, hadits dan aqwal ulama?”

SUNNI: “Ayat-ayat al-Qur’an, hadits-hadits dan pernyataan para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah, tidak ada yang membedakan antara makna Rabb (rububiyah) dan makna Ilah (uluhiyah). Bahkan dalil-dalil al-Qur’an dan hadits mengisyaratkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara Tauhid Rububiyyah dengan Tauhid Rububiyyah. Apabla seseorang telah bertauhid rububiyyah, berarti bertauhid secara uluhiyyah. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلاَئِكَةَ وَالنَّبِيِّيْنَ أَرْبَابًا

Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai arbab (tuhan-tuhan). (QS. Ali-Imran : 80).

Ayat di atas menegaskan bahwa orang-orang Musyrik mengakui adanya Arbab (tuhan-tuhan rububiyyah) selain Allah seperti Malaikat dan para nabi. Dengan demikian, berarti orang-orang Musyrik tersebut tidak mengakui Tauhid Rububiyyah, dan mematahkan konsep Ibn Taimiyah dan Wahhabi, yang mengatakan bahwa orang-orang Musyrik mengakui Tauhid Rububiyyah. Seandainya orang-orang Musyrik itu bertauhid secara rububiyyah seperti keyakinan kaum Wahabi, tentu redaksi ayat di atas berbunyi:

وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلاَئِكَةَ وَالنَّبِيِّيْنَ آَلِهَةً

Dengan mengganti kalimat arbaban dengan aalihatan.”

WAHABI: “Tapi kan baru satu ayat yang bertentangan dengan tauhid kami kaum Wahabi.”

SUNNI: “Loh, kok ada tapinya. Kalau sesat ya sesat, walaupun bertentangan dengan satu ayat. Dengan ayat lain juga bertentangan. Konsep Ibn Taimiyah yang mengatakan bahwa orang-orang kafir sebenarnya mengakui Tauhid Rububiyyah, akan semakin fatal apabila kita memperhatikan pengakuan orang-orang kafir sendiri kelak di hari kiamat seperti yang dijelaskan dalam al-Qur’an al-Karim:

تَاللهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ (97) إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (98)

Demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan (Rabb) semesta alam. (QS. al-Syu’ara’ : 97-98).”

Coba Anda perhatikan. Ayat tersebut menceritakan tentang penyesalan orang-orang kafir di akhirat dan pengakuan mereka yang tidak mengakui Tauhid Rububiyyah, dengan menjadikan berhala-berhala sebagai arbab (tuhan-tuhan rububiyyah). Padahal kata Wahabi, orang-orang Musyrik bertauhid rububiyyah, tetapi kufur terhadap uluhiyyah. Nah, alangkah sesatnya tauhid Wahabi, bertentengan dengan al-Qur’an. Murni pendapat Ibnu Taimiya yang tidak berdasar, dan ditaklid oleh Wahabi.”

WAHABI: “Maaf, kan baru dua ayat. Mungkin ada ayat lain, agar kami lebih mantap bahwa tauhid Wahabi memang sesat.”

SUNNI: “Pendapat Ibn Taimiyah yang mengkhususkan kata Uluhiyyah terhadap makna ibadah bertentangan pula dengan ayat berikut ini:

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ، مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلاَّ أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ

Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. (QS. Yusuf : 39-40).

Anda perhatikan, Ayat di atas menjelaskan, bagaimana kedua penghuni penjara itu tidak mengakui Tauhid Rububiyyah dan menyembah tuhan-tuhan (arbab) selain Allah. Padahal kata Ibnu Taimiyah dan Wahabi, orang-orang Musyrik pasti beriman dengan tauhid rububiyyah.

Disamping itu, ayat berikutnya menghubungkan ibadah dengan Rububiyyah, bukan Uluhiyyah, sehingga menyimpulkan bahwa konotasi makna Rububiyyah itu pada dasarnya sama dengan Uluhiyyah. Orang yang bertauhid rububiyyah pasti bertauhid uluhiyyah. Jadi konsep tauhid Anda bertentangan dengan ayat di atas.”

WAHABI: “Mungkin tauhid kami hanya bertentangan dengan al-Qur’an. Tapi sejalan dengan hadits. Jangan Anda jangan terburu-buru menyesatkan.”

SUNNI: “Anda ini lucu. Kalau konsep tauhid Anda bertentangan dengan al-Qur’an, sudah pasti bertentangan dengan hadits. Konsep pembagian Tauhid menjadi tiga kalian akan batal pula, apabila kita mengkaitkannya dengan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Misalnya dengan hadits shahih berikut ini:

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ( يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ) قَالَ نَزَلَتْ فِي عَذَابِ الْقَبْرِ فَيُقَالُ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللهُ وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم. (رواه مسلم 5117).

Dari al-Barra’ bin Azib, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah berfirman, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu”, (QS. Ibrahim : 27). Nabi J bersabda, “Ayat ini turun mengenai azab kubur. Orang yang dikubur itu ditanya, “Siapa Rabb (Tuhan)mu?” Lalu dia menjawab, “Allah Rabbku, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Nabiku.” (HR. Muslim, 5117).

Coba Anda perhatikan. Hadits di atas memberikan pengertian, bahwa Malaikat Munkar dan Nakir akan bertanya kepada si mayit tentang Rabb (Tuhan Rububiyyah), bukan Ilah (Tuhan Uluhiyyah, karena kedua Malaikat tersebut tidak membedakan antara Rabb dengan Ilah atau antara Tauhid Uluhiyyah dengan Tauhid Rububiyyah. Seandainya pandangan Ibn Taimiyah dan Wahabi yang membedakan antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah itu benar, tentunya kedua Malaikat itu akan bertanya kepada si mayit dengan, “Man Ilahuka (Siapa Tuhan Uluhiyyah-mu)?”, bukan “Man Rabbuka (Siapa Tuhan Rububiyyah-mu)?” Atau mungkin keduanya akan menanyakan semua, “Man Rabbuka wa man Ilahuka? Ternyata pertanyaan tersebut tidak terjadi. Jelas ini membuktikan kesesatan Tauhid ala Wahabi.”

WAHABI: “Maaf, seandainya kami hanya salah melakukan pembagian Tauhid di atas, apakah kami Anda vonis sebagai aliran sesat? Apa alasannya?”

SUNNI: “Nah, ini rahasianya. Anda harus tahu, apa sebenarnya makna yang tersembunyi (hidden meaning) dibalik pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut? Apabila diteliti dengan seksama, dibalik pembagian tersebut, maka ada dua tujuan yang menjadi sasaran tembak Ibnu Taimiyah dan Wahabi:

Pertama, Ibn Taimiyah berpendapat bahwa praktek-pratek seperti tawassul, tabarruk, ziarah kubur dan lain-lain yang menjadi tradisi dan dianjurkan sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah termasuk bentuk kesyirikan dan kekufuran. Nah, untuk menjustifikasi pendapat ini, Ibn Taimiyah menggagas pembagian Tauhid menjadi tiga, antara lain Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah. Dari sini, Ibn Taimiyah mengatakan bahwa sebenarnya keimanan seseorang itu tidak cukup hanya dengan mengakui Tauhid Rububiyyah, yaitu pengakuan bahwa yang menciptakan, memiliki dan mengatur langit dan bumi serta seisinya adalah Allah semata, karena Tauhid Rububiyyah atau pengakuan semacam ini juga dilakukan oleh orang-orang Musyrik, hanya saja mereka tidak mengakui Tauhid Rububiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah. Oleh karena itu, keimanan seseorang akan sah apabila disertai Tauhid Rububiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah.

Kemudian setelah melalui pembagian Tauhid tersebut, untuk mensukseskan pandangan bahwa praktek-praktek seperti tawassul, istighatsah, tabarruk, ziarah kubur dan lain-lain adalah syirik dan kufur, Ibn Taimiyah membuat kesalahan lagi, yaitu mendefinisikan ibadah dalam konteks yang sangat luas, sehingga praktek-praktek seperti tawassul, istighatsah, tabarruk, ziarah kubur dan lain-lain dia kategorikan juga sebagai ibadah secara syar’i. Padahal itu semua bukan ibadah. Tapi bagian dari ghuluw yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah dan Wahabi. Dari sini Ibn Taimiyah kemudian mengatakan, bahwa orang-orang yang melakukan istighatsah, tawassul dan tabarruk dengan para wali dan nabi itu telah beribadah kepada selain Allah dan melanggar Tauhid Uluhiyyah, sehingga dia divonis syirik.

Tentu saja paradigma Ibn Taimiyah tersebut merupakan kesalahan di atas kesalahan. Pertama, dia mengklasifikasi Tauhid menjadi tiga tanpa ada dasar dari dalil-dalil agama. Dan kedua, dia mendefinisikan ibadah dalam skala yang sangat luas sehingga berakibat fatal, yaitu menilai syirik dan kufur praktek-praktek yang telah diajarkan oleh Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM dan para sahabatnya. Dan secara tidak langsung, pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut berpotensi mengkafirkan seluruh umat Islam sejak masa sahabat. Akibatnya yang terjadi sekarang ini, berangkat dari Tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah, ISIS, membantai umat Islam di Iraq dan Suriah.”

Sumber: Kesesatan Konsep Tauhid Trinitas Wahabi

Sekarang kita lihat, apakah ada Kaum Wahabi yang bisa membantahnya dengan dalil dalil yang shahih menurut islam?
Silahkan berdiskusi dengan baik, atau tanggalkan paham sesat anda.
Kesesatan Konsep Tauhid Trinitas Wahabi yang tak terbantahkan

Wahabi, Syiah dan Liberal adalah Fitnah Terbesar Bagi Ummat Islam

Pengamat Islam - Wahabi, Syiah dan Liberal adalah Fitnah Terbesar Bagi Ummat Islam
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. pada kesempatan kali saya ingin mengajak semua saudara-saudara seagama dan seiman, yaitu Ummat Islam, dimanapun anda berada, untuk tetap istiqamah bertaqwa kepada Allah, dan berpegang teguh kepada Alqur'an dan Alhadits, beribadah, mencintai dan menghormati para pewaris rasul, dan juga menjaga i'tiqadiayah kita dari pemahaman sesat firqah-firqah yang mengatasnamakan islam.

Anda semua pasti sudah tahu golongan Wahabi yang suka menbid'ahkan para ulama dan pengikutnya, bahkan banyak para anbiya' yang tidak luput dari vonis kafir mereka.
anda juga bisa melihat fatwa-fatwa ustadz ustadz mereka yang tidak lama ini getol sekali membuat fatwa yang memancing kehancuran dan memecah belah persatuan ummat islam.
anda bisa dengan mudah mendapatkan informasinya dengan mengetik "Fatwa Sesat Ustadz Khalid Basalamah" atau anda bisa juga dengan mengetik "Fatwa Halal Darah Pendemo", atau silahkan anda kunjungi situs situs Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Syi'ah, salah satu firqah yang tidak kalah sesatnya dengan wahabi. mereka mengkafirkan shahabat nabi, mengumpulkan shalat serta gemar nikah Mut'ah, sungguh hal ini pelacuran berkedok agama. (kaum wahabi anti Mut'ah, namun menggemari nikah Misyar, yang pada faktanya lebih membahayakan lagi daripada nikah mut'ah).

Liberal juga tidak mau kalah dengan kedua firqah diatas, firqah yang satu ini sangat su'ul adab, semua hanya dicukupkan dengan akal dan nafsu mereka. semua agama disamakan, dan menentang jihad dan tabligh. tentu hal ini jelas jelas pelemahan terhadap islam dari dalam.

Jika kita mau mengkaji lagi lebih dalam mengenai ketiga firqah ini, tentunya masih banyak hal-hal yang sesat didalam pemahaman ke3 firqah diatas. disini saya hanya mengajak anda semua untuk lebih waspada terhadap ketiga firqah diatas, yaitu Wahabi, SYi'ah dan Liberal. karena saat kita lengah, maka i'tiqad kita yang akan hilang. uang hilang, kita masih bisa kerja, namun apabila i'tiqad kita yang hilang, murka tuhan yang akan kita dapatkan.
Sekian dari saya, semoga bermanfaat buat kita dan anak cucu kita semua amin.

Baca juga: Penolakan Ummat Islam Terhadat Ustadz Khalid Basalamah Sangatlah Tegas
Wahabi, Syiah dan Liberal adalah Fitnah Terbesar Bagi Ummat Islam